
Sudah satu minggu ini, saya selalu menonton dan membaca berita yang menjadi sorotan bahkan bisa dikatakan sebagai headline news baik di sebuah media cetak maupun elektronik. Bahkan sebelum seminggu itu, saya menganalisa berita sejak meninggalnya buronan teroris Noordin M Top, kemudian disusul berita ramainya bursa seleksi calon mentri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lantas berita tentang pelantikan presiden dan hingga sekarang panasnya perseteruan antara KPK dan Polri atau pendek kata beredarnya opini publik tentang kriminalisasi KPK terhadap penangkapan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah oleh Polri. Kini sejak kedua petinggi KPK itu ditahan, maka semakin maraklah dukungan terhadap kedua petinggi KPK tersebut. Mulai dari Gusdur, Gerakan 1.000.000 juta Facebookers Dukung Chandra dan Bibit Samad Rianto, Pahatan mural dukungan untuk KPK, Gerakan satu juta tanda tangan di Bundaran HI, Opini para pakar Hukum se-Indonesia, Dukungan DPD dari berbagai daerah, sampai dukungan oleh club antipoligami hingga isu akan di laporkannya kasus tersebut kepada PBB.
Wow, media kini semakin sibuk untuk memburu berita. Masyarakat Indonesia kini semakin penasaran akan seperti apa cerita ini berakhir. Sementara Anggoro Widjojo yang pernah di isukan bertemu dengan Susno Duaji di Singapore yang di elu-elukan sebagai tersangka, kini bisa tersenyum lebar menyaksikan perseteruan antar dua intistusi itu. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas, realitas di lapangan institusi Polri banyak yang mengkecamnya. Terlepas akan seperti apa akhir dari perseteruan tersebut, saya hanya akan menyentil sedikit tentang peristiwa tersebut dengan sebuah artikel yang di tulis oleh Franz Magnis Suseno dan saya kira ini sangat berhubungan erat sekali dengan permasalahan yang sedang terjadi antara KPK dan institusi Polri itu.
Guru Besar Ilmu Filsafat Driyarkara tersebut menulis sebuah kumpulan artikel yang dibukukan dengan judul: " Berebut Jiwa Bangsa". Judul artikel tersebut adalah Pendidikan Anti Korupsi. Dalam artikelnya dinyatakan bahwa ada tiga sikap moral fundamental yang membuat orang akan kebal terhadap godaan korupsi. Tiga sikap tersebut adalah Jujur, Adil dan orang yang memiliki rasa tanggung jawab. Jujur berarti berani untuk menunjukan siapa kita dan untuk menyatakan keyakinan kita. Seandainya para yang berseteru ini saling memiliki rasa jujur tanpa kepentingan apapun, saya kira perseteruan ini tidak akan terjadi. Justru tersangka Anggoro Widjojo yang tidak akan tersenyum. Lebih lanjut menurut Franz Magnis Suseno, kejujuran adalah keutamaan amat mendasar dalam kehidupan bersama. Lantas pada tataran adil, berarti memberikan kepada siapa saja yang menjadi haknya, dan mematuhi segala kewajiban yang mengikat kita sendiri. Begitu pula pada dua institusi ini, seandainya rasa adil itu tertancap dalam di kedua institusi ini, saya yakin lagi-lagi tersangka Anggoro Widjojo-lah yang harusnya ditahan. Point terakhir adalah orang yang bertanggung jawab, maka ia akan merasa bertanggung jawab agar tugasnya terlaksana. Dan seandainya pada dua intitusi ini saling memiliki rasa tanggung jawab, saya akan menjadi yakin lagi, Anggoro Widjojo-pun harus bertanggung jawab atas kisruh dua instistusi tersebut. Terakhir, penting untuk disamik dan diambil sebuah inti dari semua hal tersebut, bahwa "dalam masyarakat ada beberapa sikap merajalela yang membuat bangsa Indonesia tetap kelas dua, kalau bukan kelas tiga di antara bangsa -bangsa lain. Beberapa sikap itu satu diantaranya tak mau berpikir panjang." (baca: Berebut Jiwa Bangsa:339). Mungkinkah ini para ulah dari para pelaku yang tak mau berpikir panjang alias para oknum yang mempunyai otak perasaan instan yang biasanya mempunyai semboyan: " Asal ada kesempatan"? Siapa pelaku atau oknum itu? Wallahuallam. Bagaimana menurut anda?










7 comments:
Emang seru perseteruan Cicak lawan Buaya. Tp bkn krna Ributny, Gw msh pnasaran aj, ad ap di balik ini, kok ga bs selesai2. Emang beda ya dengan kasus maling ayam ???, udah ketangkep tu maling, digebukin, masuk penjara polisi, digebukin lagi, trus di sidang, Akhirny masuk rutan, Tauny gw kaya' gitu,he,,he,,
Ya,,Kasian klo smpe kebenaran bs di embat olh sesuatu hal yg dipaksain benar. Bwt ap ad undang2, bwt ap ad hukum, toh akhirny perangkat hukum it sndri yg melanggarny. Ap mmng hukum dibwt untuk dilanggar ???. Hanya krna sebuah gengsi, atw krna mmng ad konspirasi yg salh hrus dibwt benar ?? Entahlah,,, Klo sj orang-orang yg terlibat punya 3 sifat sprti pd tulisan in, pasti kasusny ga akan berlarut-larut.
O ya bro, Pake aj firefox 3.5, atau 3.6 sudah ngedukung bwt memblog situs2 yg dianggap berbahaya, sprti facebook palsu ntu.
yoi, betul. Makanya kita lihat ada apa dibalik skenario film besar antara KPK vs Polri ini? Seperti apa nanti akhir jalan ceritannya. OK, makasih deh info Mozilla 3.6-nya.langsung deh ke TKP untuk update.
Asumsi saya si, Polisi dan SBY satu grup. KPK harus dimusnahkan karena. 1) Kasus besan SBY dan 2) Kasus bank Century di mana Wapres Budiono sangat terkait.
Hanya asumsi saya belaka :)
ehhhmmmmm.....bisa jadi.Namanya juga konspirasi.Apalagi sekarang adanya tim independent, banyak yang beropini, ini hanya pencitraan presiden aja.
Konspirasi terpanas abad ini bos...hehehe....
Usut tuntas sampai ke akar2nya dan hukum pelaku2 yang terlibat skandal ini
Yoi bro, ane setuju tuh. semoga tuntas secepatnya.
postingan tentang "AdSense mati" sy ambil dr narasumber terpercaya, tp sy lupa tempel, krn tiba2x "mati lampu"...
buat si Anggodo cs, akuin aja dech udah ngemplang dana BLBI, dia pikir rakyat Indonesia cuma mereka yg ada di Sudirman Satu aja... kalo dia ngga sipit alias melek beneran, pasti dia tahu, kalo rakyat Indonesia itu termasuk mereka yg ada di kolong jembatan, di bantaran kali, di bantaran rel kereta, dan masih buaaanyak lagi rakyat Indonesia yg mengelus-elus dada... menaruh harapan agar hidupnya lebih baik dengan adanya pemerintahan yg baru ini...
"HIDUP LEBIH BAIK ekuivalen dengan TIDAK ADA LAGI KORUPSI"
Post a Comment