
Sudah dari zaman kakek mbah buyutku warisan kursi tua ini selalu terpajang di halaman teras depan rumah. Kursi tua ini membuat orang-orang dikampung yang lewat depan rumahku pasti melirik. Seolah-olah orang yang melewatinya ingin meraskan duduk dikursi tua ini. Aku juga heran, mengapa setiap orang ingin merasakan duduk di kursi tua ini. Warnanya yang coklat ketuaan mulai pudar, berkayukan jati, desain ala huruf H, dan dua tempat tangan untuk bersinggah, rasanya nikmat untuk di duduki sambil ngumbe kopi pahit ditambah ubi bakar dengan cuaca musim hujan membuat suasana semakin bertambah nikmat. Bapaku yang setiap sore menikmati suasana itu. Sehabis cape-cape mencangkul sawah, tak pernah beliau lewatkan untuk mau singgah di kursi tua itu. Selalu di sore hari ia pandangi hamparan halaman depan rumah yang ia tanami dengan ubi-ubi untuk persiapan jikalau ubinya habis. Duduk di kursi tua itu, dengan kedua kaki diangkat tepat berlabuh diatas meja bulat zaman kolonial jepang, terlintas khayalan seolah-olah seperti layaknya anggota DPR yang santai terkesan malas, merenung sambil menerawang jauh kedepan nasib bangsa ini apabila disandingkan kopi pahit dan ubi kualitas bagus, melihat tanpa berbuat sesuatu, selalu tersenyum tanpa merasakan orang-orang yang sedang susahnyah hidup, dan dengan enaknya mengumbar omongan kesana-kemari tanpa beban. Sungguh mengasyikan duduk dikursi tua itu. Begitulah kata sang bapak, yang punya empunya sekaligus penunggu tetap kursi tuanya.
Memang banyak orang yang menginginkan kursi tua itu. Mulai dari luar kota bahkan hingga luar propinsi, kursi tua itu banyak peminat untuk membelinya. Ada yang ingin menukar dengan motor baru, rumah, sepetak sawah, bahkan mobil baru yang dikeluarkan dari dealer. Tapi, anehnya bapaku selalu mempertahankan kursi tua itu. Entah kenapa? Pernah suatu hari saya iseng bertanya.
“Pak, kenapa kursi tua ini gak ditukar aja dengan sawah?”, tanyaku.
“Kan lumayan pak, sawah kita bertambah. Bapak juga bisa beli kursi yang lebih bagus sekaligus yang empuk”.
“le, le kamu itu gak ngerti y? kursi tua ini peninggalan mbah buyut kita. Kalau kita jual, kualat nanti” , jawab bapaku menimpali.
“tapi kan pak, kursi ini seringnya malah bikin ibu kesel”.
”lho kesel kenapa? Lah wong duduk santai di kursi kok kesel! Gak beralasan kan?”, sanggah bapaku.
“gimana gak kesel pak, kalau misalnya ibu manggil-manggil bapak hanya diam termangut-mangut tanpa menghiraukan panggilannya. Walo sampai berteriak-teriak abis suaranya, bapak tetep diam dengan mata merem melek. Kan bikin kesel pak”.
“lho masa kaya gitu, bisa bikin kesal. Harusnya kalo kesel itu rakyat kita. Uda teriak-teriak minta perhatikan wong mlarat, eh yang diatas malah gak denger atau pura-pura budek. Ampe suaranya abis juga tetep aja gak di hirauin. Malah sibuk dengan masalah-masalah yang gak penting.”
“ ye, bapak ini gimana. Lha wong yang ditanya masalah ibu. Kok malah ngambat-ngambat masalah negara. Maksud aku gini pak, kan kalau ditimbang-timbang adanya kursi tua ini kebanyakan malah bikin tambah masalah misalnya bapak juga seringnya males-malesan di kursi tua ini, bikin kesel ibu juga, terus yang paling penting ne kursi merusak keindahan teras rumah."
“eh le, itukan alasan yang dibuat-buat. Pokoknya bapak gak mau jual kursi tua ini. Kita itu justru malah harus kaya anggota DPR yang dengan giginya mempertahankan kursi mereka. Walaupun banyak hujatan dari mana-mana, mereka tetep aja melenggang. Menganggap semuanya angin lalu. Nah bapak juga harus seperti itu. Walaupun banyak yang menawarkan motor, mobil, dan sawah, bapak tetap harus gigih mempertahankan kursi tua ini”, kata bapaku bersemangat.
“yah gimana sih bapak ini, ngomongin kursi malah sangkut pautnya dengan kursi DPR.”, jawabku menutup pembicaraan sore itu.
***
Bersambung.......
Ujung Jaya, Januari 2006










4 comments:
wah,, Bapak nya Maulana jago politik ni,,he,,he,,
Periode selanjutnya, nyalon aj jd anggota dewan Bro. Bagus bwt negara, kalo wakil2 rakyat yang du2k dikursi empuk tsb bisa memikirkan rakyat, memikirkan wong deso, memikirkan ap sebenarny harapan rakyat. Bukan sekedar du2k santai n ngegosip yg ga penting. Kaya'nya, kursi2 yg ada di DPR/MPR skrng harus diganti dgn kursi tua ntu,,he,,he,,, ( Peace, bercanda )
he....2, yah cuma goresan melalui dunia cerpen mas jeri.
sepertinya menyindir DPR ya mas, saya tunggu deh kelanjutannya
Yoi, kang dian. Anda betul......
Post a Comment